Aku selalu percaya kalau senja adalah cara langit mengajarkan sesuatu tentang hidup.

Tentang melepaskan, mungkin.

Atau tentang bagaimana sesuatu bisa terlihat paling indah… tepat sebelum menghilang.

Sore itu aku pulang kerja lebih lambat dari biasanya. Jalanan macet, kepala penuh, dan badan rasanya cuma ingin segera rebah di kasur tanpa harus memikirkan apa pun lagi.

Kota masih sibuk seperti biasa.

Orang-orang berjalan cepat dengan wajah lelah. Klakson terdengar dari mana-mana. Lampu kendaraan memantul di kaca gedung tinggi seperti hidup yang nggak pernah benar-benar berhenti bergerak.

Lalu di tengah semua kebisingan itu, aku melihat langit.

Merah keoranyean.

Pelan-pelan tenggelam di balik gedung.

Dan entah kenapa, setiap melihat senja seperti itu, dunia selalu terasa sedikit lebih sunyi.

Seolah-olah langit sedang mengingatkan:

bahkan hari yang paling berat pun tetap akan selesai.

Waktu kecil aku kira senja cuma soal warna.

Sekarang aku tahu… senja lebih mirip perasaan.

Ada hangat di dalamnya, tapi juga sedih yang sulit dijelaskan.

Karena senja selalu datang bersamaan dengan sesuatu yang perlahan pergi.

Siang yang selesai.
Waktu yang habis.
Atau versi diri kita yang diam-diam berubah tanpa pernah benar-benar kita sadari.

Aku sering berpikir, mungkin manusia menyukai senja karena hidup kita juga seperti itu.

Tidak benar-benar terang.
Tidak benar-benar gelap.

Kita semua cuma sedang berada di antara:

harapan dan kenyataan,
kehilangan dan menerima,
ingin pulang tapi belum tahu ke mana.

Dan langit oranye itu terasa seperti rumah sementara untuk semua perasaan yang tidak bisa dijelaskan.

Motor di belakang mulai membunyikan klakson karena lampu sudah hijau.

Tapi aku masih sempat melihat langit sekali lagi sebelum jalan kembali bergerak.

Cantik sekali.

Padahal beberapa menit lagi warnanya akan hilang.

Lucu ya.

Hal-hal paling indah di hidup sering datang sebentar.

Makanya manusia selalu berusaha memotretnya.

Senja.
Pelukan terakhir.
Masa kecil.
Atau seseorang yang dulu pernah terasa seperti rumah.

Mungkin karena jauh di dalam diri, kita tahu:
tidak semua hal bisa tinggal selamanya.

Dan mungkin itu juga alasan kenapa langit senja terasa begitu dekat dengan manusia.

Karena ia mengajarkan satu hal yang sering sulit kita terima:

bahwa melepaskan bukan berarti membenci.

Kadang cuma bagian dari bagaimana hidup berjalan.

Malam mulai turun perlahan.

Warna oranye tadi akhirnya hilang ditelan gelap.

Tapi entah kenapa, aku tetap duduk sebentar di atas motor sambil memandang langit yang sudah berubah warna.

Karena untuk beberapa menit tadi, di tengah hidup yang berisik dan melelahkan ini…

aku sempat merasa tenang.